Hari Santri 2026: Solusi Dampak Karhutla, LPBI NU Ponorogo Ajak Pondok Pesantren Menanam Pohon


Hari Santri 2026: Solusi Dampak Karhutla, LPBI NU Ponorogo Ajak Pondok Pesantren Menanam Pohon

PONOROGO – Memperingati Hari Santri Nasional 2026, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Ponorogo mengajak pondok pesantren untuk berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui gerakan menanam pohon. Langkah ini menjadi salah satu bentuk kepedulian NU terhadap persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Ponorogo.

Ajakan tersebut menjadi bagian dari kegiatan Apel Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2026 sekaligus launching program Santri Tangguh Bencana yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Nurul Quran, Pakunden, Kabupaten Ponorogo.

Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat peran santri dan pesantren dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mitigasi bencana, pelestarian lingkungan, serta kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana di wilayah masing-masing.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Quran, *Gus Ulinnuha,* bertindak sebagai inspektur upacara (Irup) dalam apel Hari Santri tersebut. Kegiatan diikuti oleh para santri PP Nurul Quran, pengurus LPBI NU Ponorogo, serta perwakilan badan otonom (banom) dan lembaga di lingkungan Nahdlatul Ulama Kabupaten Ponorogo.

Ketua LPBI NU Ponorogo, *K. Habib,* menempatkan kegiatan ini sebagai bagian dari upaya mendorong keterlibatan warga Nahdliyin, khususnya kalangan pesantren, dalam menghadapi persoalan lingkungan dan risiko bencana.
Karhutla Ponorogo Capai 341,85 Hektare
Ajakan menanam pohon tersebut dilatarbelakangi kondisi kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Ponorogo. Berdasarkan data yang disampaikan panitia, hingga akhir September 2026, luas lahan yang terdampak karhutla mencapai 341,85 hektare, tersebar di 17 kecamatan dan 56 desa.
Dua kecamatan dengan luasan kebakaran terbesar adalah Kecamatan Slahung dengan luas mencapai 81,3 hektare dan Kecamatan Bungkal seluas 64,5 hektare.
Data tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan karhutla membutuhkan perhatian bersama.
Selain penanganan saat kebakaran terjadi, langkah pencegahan dan pemulihan lingkungan juga perlu menjadi bagian penting dari upaya penanggulangan bencana.

Dalam konteks tersebut, pesantren memiliki potensi besar sebagai pusat pendidikan sekaligus penggerak perubahan sosial. Melalui pendidikan lingkungan, gerakan penghijauan, dan pembiasaan perilaku ramah lingkungan, santri diharapkan dapat menjadi pelopor pelestarian alam di lingkungan pesantren maupun masyarakat sekitar.

Santri Tangguh Bencana, Pesantren Peduli Lingkungan
Peluncuran Santri Tangguh Bencana menjadi salah satu langkah untuk memperkuat kontribusi pesantren dalam membangun budaya sadar bencana. Santri tidak hanya diharapkan memiliki pemahaman keagamaan yang kuat, tetapi juga mempunyai kepedulian terhadap keselamatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.

Gerakan menanam pohon dapat menjadi salah satu bentuk aksi nyata yang dikembangkan melalui program tersebut. Kegiatan ini dapat diperkuat dengan edukasi pencegahan kebakaran, pengelolaan sampah, perlindungan sumber mata air, serta pemeliharaan tanaman di kawasan rawan bencana.
Namun, upaya mengatasi karhutla tidak cukup hanya dengan menanam pohon. Diperlukan pula pencegahan pembakaran lahan, peningkatan kesiapsiagaan masyarakat, pemantauan kawasan rawan kebakaran, dan koordinasi dengan pemerintah serta para pemangku kepentingan terkait.

Dengan demikian, keterlibatan pesantren dapat memberikan kontribusi nyata dalam membangun ketahanan lingkungan secara berkelanjutan.
Wujud NU Hadir untuk Masyarakat
Peringatan Hari Santri Nasional 2026 ini juga menjadi momentum untuk menegaskan bahwa semangat perjuangan santri tidak hanya diwujudkan melalui penguatan pendidikan dan kehidupan keagamaan, tetapi juga melalui kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan dan lingkungan.

Melalui LPBI NU Ponorogo, Nahdlatul Ulama diharapkan terus mengambil peran dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap ancaman bencana, termasuk karhutla yang berdampak terhadap lingkungan, sumber penghidupan warga, dan keseimbangan ekosistem.

Panitia kegiatan, *Rosidah LPBI,* bersama seluruh unsur yang terlibat menjadikan peringatan Hari Santri ini sebagai ruang untuk memperkuat sinergi antara pesantren, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat dalam upaya pencegahan bencana.
Semangat Hubbul Wathan Minal Iman diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata menjaga bumi, merawat hutan, melindungi sumber air, dan membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana.
Hari Santri 2026 menjadi pengingat bahwa santri tidak hanya menjaga nilai-nilai agama, tetapi juga memiliki tanggung jawab merawat alam. Dari pesantren, gerakan peduli lingkungan diharapkan tumbuh menjadi gerakan bersama demi Ponorogo yang lebih hijau, aman, dan tangguh bencana.

Berita Terkait

Top